Analisis Sudut Pandang Marketing: Naik Pamor Lantaran Kasus Uninstal Bukalapak

18 Feb 2019

Dosen Jualan - Cuitan akun twitter CEO Bukalapak, Achmad Zaky, membuat heboh masyarakat Indonesia. Zaky mengomentari tentang dana riset negara Indonesia. Ia menyampaikan, “Omong kosong Industri 4.0. kalau budget R&D negara kita kayak gini (2016, in USD).” Kemudian ia paparkan data bahwa Indonesia menduduki nomor urut 43, dengan angka US $ 2 miliar dengan posisi di bawah Malaysia dan Singapore sebagai pembanding. 
 



Sumber Gambar: Tribun News, cuitan ini telah dihapus oleh pemilik akun, Achmad Zaky.

Akhir cuitan, ia menyampaikan harapan, “Mudah2an presiden baru bisa naikin.” Harapan ini oleh para pendukung paslon capres dan cawapres nomor 1, Jokowi-Ma’ruf, dianggap tidak menghargai Jokowi yang telah membantu dalam bisnisnya. Kacang lupa kulitnya, begitu mereka menyebutnya. Sebab, kata presiden baru diposisikan sebagai rivalnya, paslon capres dan wapres nomor 2, Prabowo-Sandi. Sehingga sebagai balasan, tagar #uninstalbukalapak ramai digaungkan.
Terlepas dari problematika politik yang terkadang ditelaah tidak dengan pikiran jernih, maka Dosen Jualan mencoba menganalisi dari sudut pandang marketing sebagai pemain online.

Menurut Dosen Jualan, fenomena #uninstalbukalapak hanyalah fenomena sesaat. Kasus ini hanya percikan saja, beberapa hari kemudian akan tenggelam, mungkin umurnya hanya sekitar 3, 4 hari atau 1 minggu sudah selesai. Setelah seminggu, kasus ini tidak seheboh awalnya. Mungkin bisa jadi akan diungkit saat momen tertentu namun itu pun kecil kemungkinan.

Munculnya tagar #uninstalbukalapak atas reaksioner kasus tersebut terkesan akan menghancurkan pamor dan bisnis Bukalapak. Namun jika ditinjau dari segi marketing justru berdampak positif. Berikut pemaparan dampak positif bagi Bukalapak atas kasus tersebut ditinjau dari segi marketing:


  • Mengangkat Pamor Bukalapak

Apapun yang sudah viral, maka membendungnya adalah imposible di era informasi tanpa batas ini. Maka informasi #uninstalbukalapak ini akan menyebar luas, bahkan pada orang yang tidak tahu tentang Bukalapak. Ananlisisnya, orang yang tidak tahu tentang bukalapak, kemudian akan menjadi kepo, serba ingin tahu secara detail tentang Bukalapak. Bisa jadi, lantas kemudian instal Bukalapak karena mengetahui kebermanfaatan Bukalapak.

  • Bagi yang Pro Bukalapak, Meningkatnya Militansi Pengguna Bukalapak

Kita sadari dan akui bersama bahwa di Indonesia tercinta ini ada dua golongan utama terkait merebaknya kasus #uninstalbukalapak, ada yang pro dan kontra. Justru, adanya ini, menimbulkan militansi yang kuat, tentu bagi yang pro bukalapak. Misalkan, pengguna Bukalapak yang awalnya biasa-biasa saja, hanya untuk transaksi bisnis, namun adanya kejadian itu bisa jadi justru ikut mengkampanyekan Bukalapak agar semakin eksis. 


  • Bagi yang Abstain terhadap Bukalapak, Justru Jadi Pendukung Programnya

Selain ada yang pro dan kontra, pasti juga ada yang tidak keduanya. Artinya, orang-orang tipe ini adalah mereka yang cuek dengan bukalapak. Namun, dengan alasan mencintai produk dalam negeri, mencintai kekayaan dalam negeri dan juga selain itu bisa karena dalam rangka bela UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), bisa jadi mereka ikut mengendorse, membesarkan dan mengampanyekan Bukalapak. 

  • Bagi seller, akan tetap seller

Para pelaku UMKM, memposisikan diri tentu menjadi seller (penjual online). Mereka, seller pengguna bukalapak, menurut Dosen Jualan, kecil kemungkinan akan uninstal Bukalapak. Sebab, di Bukalapaklah mereka berjualan. Mungkin jika ada yang tetap menguninstal, posisi meraka bukanlah seller namun buyer (pembeli). Kalau seller kemungkinan besar tidak terpengaruh oleh hal itu. Sederhananya, “masa bodoh dengan urusan politik, yang penting jualan laku”. Sebab, bagi pengguna (red-seller), merasa sudah dibantu terjualnya produk sehingga membantu perekonomian mereka.

Jadi, adanya kasus yang menghebohkan seantero Indonesia, justru bisa jadi menaikkan transaksi-trasnsaksi Bukalapak. Bisa jadi yang mengkampanyekan tagar #uninstalbukalapak, adalah orang-orang yang memang tidak menggunakan atau tidak menginstal aplikasi Bukalapak. Kalaupun iya, mereka bukanlah maniak bukalapak, orang yang belanjanya hampir selalu menggunakan aplikasi Bukalapak. Atau kalapaupun iya, ia adalah pengguna bukalapak ‘beraliran politik’ (bukan pemain asli UMKM).

Selain itu, Dosen Jualan yakin pembeli khusunya emak-emak juga akan cuek dengan ini. Sederhananya, “yang penting ada harga murah, kenapa tidak?” bisa jadi sekarang uninstal Bukalapak, namun ketika ada flash sale ataupun ada produk-produk dengan harga miring, kemudian mereka akan instal ulang kembali dan melakukan transaksi jual beli.

Apalagi, ajakan Presiden Indonesia, Jokowi, di news.detik.com pada 17 Februari 2019 kemarin bahwa, "Saya ajak hari ini untuk menghentikan, untuk stop uninstall Bukalapak. Setop. Karena kita harus dorong. Dorong anak-anak muda yang memiliki inovasi, memiliki kreativitas untuk maju.”

Kita sadari bahwa Bukalapak adalah salah satu dari 4 unicorn e-sommerce Indonesia. Marketplace ini, telah banyak menopang perekonomian masyarakat Indonesia yang bergelut di UMKM.
Akhir kata, semakin digaungkan tagar #uninstalbukalapak, maka semakin Bukalapak mendapatkan dampak positifnya.
Description
: Analisis Sudut Pandang Marketing: Naik Pamor Lantaran Kasus Uninstal Bukalapak
Rating
: 4.5
Reviewer
: Suryadin Laoddang
ItemReviewed
: Analisis Sudut Pandang Marketing: Naik Pamor Lantaran Kasus Uninstal Bukalapak

0 komentar:

Posting Komentar test

Copyright 2017 - 081 327 087 397 | Pembicara Internet Marketing Konsultan Pelatihan Pemasaran Coach Digital Online