Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Indo Beppa itu adalah Chiffon Cake ternyata

Selama bulan Ramadhan dan menjelang Ramadhan kemarin, saya kebanjiran banyak kiriman makanan. Entah mengapa kiriman makanan itu mengingatkan saya dengan masa kecil saya. Artinya, makanan itu adalah makanan yang sering saya nikmati di masa kecil saya, di pesisir Danau Tempe, Sulawesi Selatan.

Salah satu makanan yang berkesan bagi saya adalah INDO BEPPA. Jangan kaget dulu, namanya mungkin asing bagi Anda. Saya terpaksa memilih penamaan tersebut, karena memang saya tidak tau apa nama kue tersebut dalam bahasa Indonesia. Nama yang saya dapat adalah dalam Bahasa Inggris, namanya adalah Chiffon Cake, entah kenapa namanya seperti. Mungkin karena tekstur kue tersebut yang lembut. Deksripsi saya sudah benar belum Daeng Arham Rasyid, Asbar Andaya.



Saat, potongan kue itu diletakkan di ujung ludah, lalu ditekan dengan langit-langit mulut atas, rasanya seolah Anda sedang menekan spon cuci tak berair. Rongganya akan merapat dengan lembut, lalu makin padat. Katanya sih selembut sutra, meski saya sungguh tidak setuju tentang itu. Sutera kan warnanya putih bukan kuning, sutera jauh lebih lembut dari kue ini, jangan berdebat tentang ini pada saya. Ayah kandung (alm) dan Ayah mertua saya adalah pengusaha sutera.

Tentang nama Indo Beppa diatas, itu adalah penamaan kue ini dalam Bahasa Bugis. Disebut Indo artinya ibu, biang, dedengkot, sementara Beppa artinya kue. Kesimpulannya, kue ini bagi orang Bugis adalah ibunya kue, biangnya kue. Karena bentuknya lebih besar dibandingkan kue yang lainnya. Kue ini dulunya seolah wajib hadir disetiap perhelatan adat suku Bugis. Sekarang? Sudah kalah sama kue tradisional Bugis, yah Indo Beppa memang sudah termasuk kue modern, sudah menggunakan mentega. Hal yang tidak ditemui pada kue Bugis lama, tradisional.


Jelang Ramadhan saya mendapatkan kiriman kue ini dari emak setrong Hekso Wahyuningsurya, labelnya Kenangan Jogja. Entah kenapa namanya Kenangan Jogja, mungkin karena si empunya adalah orang yang susah move on dengan Jogja. Semua orang yang pernah kuliah di Jogja, pasti susah melupakan Jogja. Karena Jogja tercipta dari racikan antara cinta dan rindu, bukan begitu sang pengawal sejati Ananto Jogja
Selang dua hari kemudian, saya mendapatkan lagi kiriman kue serupa. Kali ini dari sahabat rantau saya, sesama perantau Bugis, Deang Heri Ariyadi. Kalo yang ini brand labelnya adalah RotiD, basisnya di timur kota Jogja, kota kecil yang selalu hiruk pikuk, Klaten. Dua brand diatas mengirimi saya dua porsi kue, dan jujur saya gak bisa menghabiskan bersama keluarga. Seperti Anda tau, saat ini saya lagi komitmen mulai diet ketat. Insya Allah mulai besok pagi, doakan yah..

Awal Ramadhan, kembali saya mendapat kiriman kue serupa lagi. Kali ini brandnya adalah Alif Bakery, dengan komandan Srikandi seenergik Wiji Asih Setiawati. Kali ini kue ini, bukan dikirim bukan oleh ownernya, maaf nyindir Bu Dhe, he he he. Melainkan dibawakan langsung oleh adik seperantauan saya, sejoli Novan Alamsyah dan Vella Anggun Hermaningsih. Jika Kenangan Jogja identik dengan warna hijau, Roti_D dengan warna coklat dan putihnya dan Alif Bakery identik dengan Warna Ungunya.

Selang 5 hari kemudian, datang lagi kiriman kue yang sama. Kali ini berulang, dari brand Kenangan Jogja. Bedanya kali ini bukan dikirimin ownernya, tapi dikirim oleh teman berantem saya Hendra Permana /  Dewi Kurnia. Thanks ya tante, tapi maaf banget kuenya juga gak saya habisin. Hanya makan sepotong kecil, demikian juga dengan anak dan istri saya. Mohon diikhlaskan ya, kuenya saya bagikan ke teman-teman yang lagi tadarrusan di Masjid dan yang lagi main kartu di Pos Ronda. Ampun tante...

Tolong yah...
Tolong yah, jangan paksa saya memberikan penilaian tentang rasa dari ketiganya, apalagi suruh bandingkannya. Sungguh itu berat bagi saya, saya orangnya gak enakan soalnya, apalagi ketiga brand itu milik sahabat saya semua. Ketiga enaknya kok, kenangan Jogja memang menggoda dengan taburan toping coklatnya. Roti_D bikin menggoda dengan lembutnya, Alif Bakery menggoda banget dengan taburan toping keju keringnya.

Tulisan ini ditulis selepas salat subuh, jadi rasa lapar puasa belum menggoda, Insya Allah saya gak ngiler ngebayanginnya ada di meja makan jelang buka puasa nanti. Saya sedang tidak ngabayangin kue itu bersanding dengan kepulan aroma Kopi Toraja miliknya Tuty Chien Abu.

Sumpah, saya juga tidak sedang membayangkan itu semua bersanding dengan kue kering racikannya teh Noor Rafita yang serba pink. Termasuk saya tidak membayangkan itu bersanding dengan kue kering renyahnya D'ninis-nya Sri Ika Marthapurie apalagi Chocolisiusnya Muhammad Rusmin atau Roti Gembongnya Mukhlas Nasif, hingga kripik bumbu kacangnya tante Linda Afriani

Insya Allah saya kuat puasa hari ini.
Beduq Adzan Magrib datanglah segera

Posting Komentar untuk "Indo Beppa itu adalah Chiffon Cake ternyata"

Berlangganan via Email